Abstract
INDONESIA:
Keinginan remaja untuk mencoba-coba, mengikuti trend dan gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali. Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengangumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self image). Timbulnya keinginan berperilaku yang beresiko dikarenakan adanya rasa takut dianggap tidak cakap, perlu untuk menegaskan identitas dan dinamika kelompok seperti adanya tekanan dari teman sebaya. Remaja yang memiliki harga diri yang buruk membutuhkan persetujuan teman-teman sebayanya begitu juga dalam hal merokok, berdasaran hasil observasi yang dilakukan tak sedikit siswa yang merokok dikarenakan ingin memperoleh pengakuan dari teman-teman sebayanya, ingin dianggap dewasa, serta mampu memikat lawan jenis dan lain sebagainya. Dan ketika mereka tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh teman-teman sepergaulannya maka mereka akan tersingkir dan dianggap remeh oleh teman- teman mereka. Sedangkan siswa yang memiliki harga diri yang tinggi akan cenderung tidak mudah terpengaruh karena mampu menerima pandangan teman-temannya dengan lebih terbuka dan yakin dengan dirinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara harga diri dengan intensi merokok pada siswa di SMAN 1 Plaosan Kabupaten Magetan.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan skala harga diri dan skala intensi merokok yang disebarkan kepada 61 subjek penelitian. Skala konsep diri terdiri dari 15 aitem dengan α = 0,903, dan skala intensi merokok terdiri dari 19 aitem dengan α = 0, 925. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan adalah teknik Korelasi Product Moment.
Hasil penelitian mengindikasikan bahwa nilai koefisien korelasi sebesar - 0,617, dengan P = 0,000 ( P < 0,01) dengan N = 61. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang negatif dan signifikan antara tingkat harga diri dan tingkat intensi merokok sehingga dapat diidentifikasikan semakin tinggi harga diri siswa maka semakin rendah intensi merokoknya begitu juga sebaliknya jika semakin rendah harga diri maka semakin tinggi intensi merokok pada siswa SMA Negeri 1 Plaosan sehingga hipotesis diterima.
ENGLISH:
Adolescents tend to do experiments on everything, follow trends and lifestyles, and enjoy their age with friends. They are really open to others' opinion because they assume that other people admire or criticize them as they admire or criticize themselves. This assumption makes them aware a lot of how they look and behave, both for themselves and their self image. There is also the time when teenagers do much risky activities, they do those for some reasons; the fear of being labeled as ‘incapable/ powerless person’, identity confirmation, and the pressure from friends as the group dynamics. Those teens who have a poor self-esteem requires the approval of their friends in doing everything, including smoking. Based on the observation, many students smoke for similar reasons; needing recognition from their friends, want to be seen as mature guys, and be able to attract the opposite sex. They will be taken for granted by their friends unless they follow what they said. On the other hand, the students who have high self-esteem would be likely less affected by their friends, because they are able to accept their friends opinion with a more open minded but can still control it by their self-confidence. The purpose of this study is to determine the relationship between self-esteem and the intensity of smoking on the students of SMAN 1 Plaosan Magetan.
This study uses self-esteem scale and the smoking intencity scale in collecting the data. They are distributed to 61 research subjects. Self-concept scale consisted of 15 items with α = 0, 903 and smoking intensity scale consisted of 19 items with α = 0,925. The technique of data analysis used to test the hypothesis is Product Moment Correlation Technique.
The result states the correlation coefficient value - 0.617, P = 0.000 (P <0.01) with N = 61. This indicates that there is a negative and significant relationship between self-esteem and smoking intensity; the higher self-esteem, the lower the intensity to smoke, while the lower self-esteem, the higher the intensity to smoke. Simply saying, the research which is done on the students of SMA 1 Plaosan Magetan finds that the hypothesis is accepted.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masa
remaja merupakan masa yang sangat kompleks dimana individu baik laki-laki
maupun perempuan mengalami berbagai masalah seperti perubahan fisik, perubahan
emosi, perubahan kognitif, tanggapan terhadap diri sendiri (penghargaan diri),
mengalami krisis identitas, mengalami konflik otonomi dan ragu-ragu dalam
menyelesaikan masalah. Oleh karena itulah remaja sangat rentan sekali mengalami
masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai
akibat terjadinya perubahan sosial. Dalam proses pertumbuhan dan proses
kehidupan, tidak mudah dalam menentukan sikap diri yang positif. Karena mungkin
mempunyai pandangan yang tidak menyenangkan terhadap diri sendiri karena
pengaruh komentar orang lain. Yang menyedihkan banyak orang mencari
penghormatan diri serta dapat dicintai dan dikagumi oleh orang lain, tapi tetap
saja dapat menganggap diri sebagai orang yang tidak berharga. Bisa juga karena
merasa gagal, tidak dapat berbuat apa-apa, merasa tidak dapat bertanggung jawab
terhadap sesuatu yang ditugaskan, atau tidak dapat berkata jujur dan
sebagainya. Harga diri merupakan hal yang difikirkan dan dirasakan oleh
individu, bukan apa yang difikirkan dan dirasakan oleh orang lain tentang sikap
individu sebenarnya. Tak seorang pun dapat mengendalikan dan mempercayai
kepercayaan dan kecintaan terhadap diri sendiri. Harga diri terbentuk dari
hasil evaluasi 2 seseorang terhadap dirinya yang tercermin dalam sikap positif
(optimis, aktif dan ekspresif, berani menghadapi tantangan dan bersikap
terbuka) dan sikap negatif (pesimis, pasif dan kurang memiliki inisiatif, takut
menghadapi tantangan dan bersikap tertutup). Dalam hal kesadaran diri, pada
masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri
mereka. Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka
menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka
seperti mereka mengangumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu
membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan
(self image). Dari beberapa dimensi perubahan yang terjadi pada remaja seperti
yang telah dijelaskan diatas terdapat kemungkinan-kemungkinan yang akan
mengundang keinginan perilaku beresiko dan berdampak negatif pada remaja,
seperti penggunaan alkohol, tembakau dan zat lainnya. Timbulnya keinginan
berperilaku yang beresiko dikarenakan adanya rasa takut dianggap tidak cakap,
perlu untuk menegaskan identitas dan dinamika kelompok seperti adanya tekanan
dari teman sebaya. Pada masa ini, justru keinginan remaja untuk mencoba-coba,
mengikuti trend dan gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali. Walaupun
semua kecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan
remaja terdorong untuk merokok. Beberapa alasan dikemukakan terkait keinginan
untuk merokok. Di antaranya untuk bersantai, tertantang untuk melakukan hal
yang 3 dilakukan orang dewasa, kebiasaan dalam kelompok pertemanan, dan agar
dapat diterima dalam sebuah kelompok. Masa remaja yang merupakan titik awal
fase perkembangan dalam pengambilan keputusan dan sikap. Apabila pada masa
remaja saja sudah salah menentukan sikap, maka seterusnya akan mengalami
kesalahan dalam menentukan sikap khususnya disini menentukan perilaku merokok/
tidak merokok. Indonesia menempati rangking ke tiga dalam hal jumlah perokok
aktif terbanyak setelah Cina dan India. Lebih dari 60 juta penduduk indonesia
perokok aktif atau 28% per penduduk. Data statistik khusus perokok anak-anak
atau remaja mencapai 24,1% anak/remaja pria, dan 4,0% anak/remaja wanita
sehingga dapat dikatakan 13,5% anak/remaja Indonesia merupakan perokok aktif.1
Kondisi umum perokok di Indonesia saat ini adalah mulai merokok pada usia muda
(15-19 tahun) dan merupakan gaya hidup supaya tampak trendi, cool, macho, gaul,
dan lain-lain. Terdapat banyak alasan yang melatarbelakangi remaja untuk
merokok. Efri Widianti berpendapat bahwa beberapa hal yang melatarbelakangi
seseorang merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory beliefs), untuk
menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya
tersebut tidak melanggar norma (permissive beliefs/ fasilitative). 2 Hal ini
sejalan 1 Wahyudiyanta, I., Jumlah Perokok di Indonesia Tempati Rangking 3
Dunia. (2010, 28 Oktober). Detik Surabaya. 2 Widiawati, E. 2007. Remaja dan
Permasalahannya: Bahaya Merokok, Penyimpangan seks pada remaja, dan Bahaya
penyalahgunaan Minuman Keras/ narkoba. Disampaikan dalam penyuluhan sosial
mengenai remaja dan permasalahannya di Tsanawiyah Al Ihsan Batujajar Bandung.
hal 8 4 dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya
dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena
mereka sangat tertarik kepada kelompok sebayanya atau dengan kata lain terikat
dengan kelompoknya. Tidak ada yang memungkiri adanya dampak negatif dari
perilaku merokok tetapi perilaku merokok bagi kehidupan menusia merupakan kegiatan
yang fenomenal. Artinya, meskipun sudah diketahui akibat dampak negatif merokok
tetapi jumlah perokok bukan semakin menurun tetapi semakin meningkat dan usia
perokok semakin bertambah muda. Rokok memiliki dampak negatif yang tidak hanya
menyebabkan suatu penyakit tetapi dapat memicu jenis penyakit sehingga dapat
dikatakan merokok tidak menyebabkan kematian, melainkan dapat mendorong
munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian, yakni: penyakit
kardiovaskuler, neoplasma (kanker), saluran pernafasan, peningkatan tekanan
darah, memperpendek usia, menurunan vertilitas (kesuburan) dan nafsu seksual,
sakit maag, gondok, gangguan pembuluh darah,penghambat pengeluaran air seni,
serta polusi udara dalam ruangan (sehingga terjadi iritasi mata, hidung dan
tenggorokan). Saat ini remaja merokok merupakan suatu pandangan yang biasa.
Kita sering melihat dijalan atau tempat yang biasanya dijadikan sebagai tempat
“nongkrong” anak-anak tingkat sekolah menengah banyak siswa yang merokok dan
hal tersebut merupakan kegiatan sosialnya atau suatu tuntutan pergaulan bagi
mereka. Upaya-upaya untuk menemukan jati diri tersebut tidak selalu dapat 5
berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Beberapa remaja melakukan perilaku
merokok sebagai cara kompensatoris, seperti yang dikemukakan oleh Brigham bahwa
perilaku merokok bagi remaja merupakan prilaku simbolisasi. Simbol dari
kematangan, kekuatan, kepemimpinan dan daya tarik terhadap lawan jenis.3
Seperti halnya yang terjadi pada siswa SMA Negeri 1 Plaosan, siswa lakilaki
yang tidak merokok cenderung merasa bahwa mereka diasingkan dari temantemannya,
dianggap tidak “gaul”, dan dianggap “cemen” sehingga tidak jarang diantara
mereka memiliki keinginan yang tinggi terhadap rokok meskipun mendapat larangan
dari orang tua mereka, hal ini dikarenakan persepsi individu terhadap tekanan
sosialnya untuk melakukan tingkah laku tersebut. Remaja yang memiliki harga
diri yang buruk membutuhkan persetujuan teman-teman sebayanya. Karena mereka
kurang menyanyangi dirinya sendiri, mereka membutuhkan kasih sayang orang lain.
Mempunyai sahabat-sahabat dalam sebuah geng atau sahabat-sahabat yang melanggar
norma sekalipun dirasa lebih menyenangkan daripada sama sekali tidak mempunyai
teman sehingga mengubah penilaian mereka yang menyangkut pengetahuan dan
keyakinan mengenai perilaku tertentu. Begitu juga dalam hal merokok, tak
sedikit siswa yang merokok dikarenakan ingin memperoleh pengakuan dari
teman-teman sebayanya, ingin dianggap dewasa, serta mampu memikat lawan jenis
dan lain sebagainya. Dan ketika mereka tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh
temanteman sepergaulannya maka mereka akan tersingkir dan dianggap remeh oleh
teman-teman mereka. 3 Wibawa, A. A., 2011. Intensi Merokok pada Remaja Awal
Laki-laki. Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Muhamaadiyah Malang. 6
Sedangkan remaja yang memiliki harga diri yang tinggi adalah mereka yang mampu
bersikap dewasa dalam hidupnya, mampu memberi dan menerima kasih sayang dari
orang lain sehingga cenderung lebih mandiri dan kreatif, mudah bergaul, mampu
mengungkapkan pendapatnya dan menerima adanya kritik dari orang lain, serta
memiliki sikap terbuka dan tegas sehingga lebih mudah bertahan dari tekanan
sosialnya. Seperti yang dipaparkan seorang guru bimbingan konseling (BK) di
SMAN 1 Plaosan Kabupaten Magetan bahwa jumlah siswa laki-laki di sekolah
tersebut tidak sedikit yang merokok sekitar 40 % dari jumlah siswa laki-laki
menjadi perokok aktif, namun dikarenakan peraturan sekolah yang melarang keras
perilaku tersebut berada di sekolah maka siswa biasanya melakukan hal tersebut
diluar sekolah misalnya ketika mereka nongkrong bersama teman-teman maupun
kegiatan diluar sekolah lainnya. Beberapa siswa laki-laki merokok karena merasa
perilaku tersebut tidak bertentangan dengan peraturan manapun selama tidak
dilakukan disekolah meskipun terkadang dengan diam-diam mereka tetap
melakukannya dan mendapat teguran dari pihak sekolah, namun hal tersebut tidak
dapat mengubah kebiasaan mereka. Berdasarkan observasi serta wawancara yang
telah dilakukan diketahui bahwa belum ditemukannya siswa perempuan yang merokok
di SMA Negeri 1 Plaosan. Walaupun demikian banyak diantara mereka beranggapan
bahwa merokok merupakan hal yang biasa bagi pria namun masih dianggap kurang
baik untuk perempuan sedangkan sebagian diantaranya kurang menyukai pria yang 7
merokok dikarenakan aroma menyengat dari efek merokok tersebut dan akan
menganggu kesehatan mereka. Walaupun demikian peneliti menemukan beberapa
individu yang memiliki keinginan yang tinggi terhadap rokok hanya dikarenakan untuk
menemani kesepian mereka karena kurangnya perhatian dari orang tua. Kurangnya
keyakinan diri individu terhadap potensi yang mereka miliki serta kurang
mampunya individu dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi membuat
individu tersebut lari ke dalam hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Beberapa penelitian yang mengangkat fenomena harga diri remaja telah dilakukan
sebelumnya, penelitian terbaru megenai fenomena tersebut ialah yang dilakukan
oleh Fitri, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang (2011) yang engambil judul tentang hubungan self esteem dengan perilaku
merokok pada iswa laki-laki di MTS. Al- Huda Gondang. Hasil penelitiannya
menjelaskan bahwa orang yang mempunyai harga diri yang tinggi akan memiliki
perilaku merokok yang rendah. Hal ini membuktikan adanya hubungan negatif
antara harga diri dengan perilaku merokok. Berdasarkan fenomena diatas,
peneliti mengkaji fenomena merokok pada siswa laki-laki di SMAN 1 Plaosan
dengan menggunakan variabel harga diri yang mempengaruhi keinginan atau intensi
berperilaku seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku yang
dalam hal ini adalah perilaku merokok pada remaja. Karena itulah peneliti
berpendapat pentingnya penelitian ini dilakukan guna mengetahui sejauh mana
tingkat harga diri dan tingkat intensi 8 merokok siswa serta hubungan diantara
keduanya sehingga nantinya dapat digunakan sebagai acuan guna mengurangi
perilaku merokok pada remaja. Berdasarkan pemaparan diatas inilah peneliti
ingin mengetahui apakah terdapat hubungan antara harga diri dengan intensi
merokok pada remaja laki-laki di SMAN 1 Plaosan sehingga peneliti mengambil
judul “hubungan antara harga diri dengan intensi merokok pada siswa di SMAN 1
Plaosan”. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah tingkat harga diri siswa SMAN 1
Plaosan? 2. Bagaimanakah tingkat intensi merokok siswa SMAN 1 Plaosan? 3.
Apakah terdapat hubungan antara harga diri dengan intensi merokok pada siswa di
SMAN 1 Plaosan? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui tingkat harga diri
siswa SMAN 1 Plaosan. 2. Untuk mengetahui tingkat intensi merokok siswa SMAN 1
Plaosan. 3. Untuk mengetahui hubungan antara harga diri dengan intensi merokok
pada siswa di SMAN 1 Plaosan. D. Manfaat Penelitian Secara teoritis, penelitian
ini diharapkan dapat memberi tambahan keilmuan pada peneliti dan juga
diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam ilmu Psikologi, khususnya Psikologi
Sosial. Manfaat secara praktis, bagi para 9 pekerja pendidikan diharapkan dari
hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang harga diri dan intensi
merokok pada siswa sehingga dalam perkembangannya dapat membantu ke arah yang
lebih optimal. Bagi Lembaga, pihak sekolah maupun Dinas pendidikan sebagai
bahan informasi yang berkaitan dengan masalah-masalah mengenai harga diri dan
intensi merokok pada siswa, sehingga dapat ditindak lanjuti dengan mengadakan
pelatihan-pelatihan atau training sehingga mereka mampu mengubah perilaku
merokok, serta menerapkan peraturan-peraturan baru dalam metode pendisiplinan dengan
lebih mengelaborasi aspek psikologis sebagai salah satu upaya pencegahan dan
penurunan jumlah siswa perokok. Manfaat bagi peneliti selanjutnya, diharapkan
hasil penelitian ini dapat memberikan referensi untuk peneliti dan dapat
menumbuhkan minat untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai permasalahan
tentang hubungan antara harga diri dengan intensi merokok pada siswa.
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Hubungan harga diri dengan intensi merokok pada siswa SMAN 1 Plaosan Kabupaten Magetan." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD
No comments:
Post a Comment