Abstract
INDONESIA:
Masalah perilaku seks pra nikah selalu menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan dan diperdebatkan, karena menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Di Indonesia, perilaku seks pra nikah jelas dilarang, tapi kenyataannya justru terjadi peningkatan angka dikalangan remaja. Banyak sekali faktor yang menjadikan perilaku seks pra nikah tersebut marak, misalnya faktor ekonomi, pergaulan, situs-situs porno, media massa, dan terutama adalah adanya tingkat kontrol diri yang tidak berkembang dengan baik. Dengan adanya kontrol diri yang baik pada diri remaja tersebut diharapkan dapat mengurangi angka terjadinya perilaku seks pra nikah. Karena kontrol dri adalah kemampuan individu dalam mengatur, membimbing dan mengrahkan emosi, dan dorongan-dorongan dalam dirinya ke arah yang lebih positif. Sehingga kontrol diri sangat penting untuk mencegah maraknya perilaku seks pra nikah.
Sehingga penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui tingkat kontrol diri siswa SMKN 2 dan ingin mengetahui tingkat perilaku seks pra nikah pada siswa tersebut serta hubungannya antara kontrol diri dengan perilaku seks pra nikah.
Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian kuantitatif, dan jenis penelitiannya adalah penelitian korelasional. Sampel dari keseluruhan populasi yang berjumlah 150 siswa dengan sampel yang dipakai 20% yaitu 30-40 siswa. Pengambilan data menggunakan angket dengan skala Likert untuk variabel kontrol diri, sedangkan untuk perilaku seks pra nikah menggunakan metode checklist dengan melakukan wawancara per siswa, wawancara dengan pihak yang berkompeten, observasi, dan dokumentasi. Uji validitas dan reliabelitas dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS versi 11,5 for windows.
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, dapat diketahui bahwa tingkat kontrol diri siswa berjumlah 1 orang (2,5%) pada kategori tinggi, 33 orang (82,5%) pada kategori sedang dan 6 orang (15%) pada kategori rendah. Sedangkan pada variabel perilaku seks pra nikah, untuk kategori tinggi berjumlah 17 orang (42,5%), 13 orang (32,5%) pada kategori sedang dan 10 orang (25%) pada kategori rendah. Dari uji korelasi Produck Moment Karl Person dengan menggunakan bantuan SPSS 11.5 for windows tidak didapatkan hasil koefisien korelasi, dengan menunjukkan hasil yaitu 0, 035 dengan signifikansi 0,830 lebih >0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku seks pra nikah. Maka, hipotesis (Ha) yang berbunyi : “Ada hubungan negatif antara “kontrol diri dengan perilaku seks pra nikah, semakin tinggi kontrol diri, maka semakin rendah pula perilaku seks pra nikah “ di tolak.
BAB I
PENDAHULUAN’
A.
Latar
Belakang Masalah
Masa
remaja merupakan masa peralihan atau transisi, baik fisik, emosi, maupun
sosial, antara masa anak-anak yang penuh kepolosan dan keceriaan, dengan masa
dewasa yang menjadi awal masa kedewasaan, kematangan, dan kesempurnaan
eksistensi manusia. Masa remaja ini memiliki urgensi tersendiri dalam kehidupan
manusia dan dalam pembentukan kepribadiannya, sebab pada masa tersebut terjadi
banyak perubahan besar yang berpengaruh dalam berbagai tahap kehidupan
selanjutnya (Hurlock, 2003:31). Remaja mempunyai hasrat-hasrat yang sangat kuat
dan mereka cenderung untuk memenuhi hasrat-hasrat tersebut semuanya tanpa
membeda-bedakannya dari hasrat-hasrat yang ada pada tubuh mereka. Hasrat-hasrat
seksual-lah yang paling mendesak dan dalam hal tersebut mereka menunjukkan
hilangnya kontrol diri (R.E.Muss, 1968:21) Kontrol diri merupakan konsep di
mana ada atau tidak adanya seseorang memiliki kemampuan untuk mengontrol
tingkah lakunya yang tidak hanya ditentukan cara dan teknik yang digunakan
melainkan berdasarkan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan (Geldfried &
Merbaum 1973, dalam Aziz, 2003). Kontrol diri sangat diperlukan karena individu
merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri sehingga membutuhkan
orang lain, agar individu tidak melanggar hak-hak orang lain serta membahayakan
orang, maka individu harus mengontrol perilakunya, dan juga adanya dorongan
dari masyarakat untuk menuntut supaya individu mempunyai standar yang lebih
baik, untuk mencapai xvi standar, maka individu membutuhkan kontrol diri agar
dalam proses pencapaiannya individu tersebut tidak melakukan hal-hal yang
menyimpang (Acocella, 1995:150 dalam Sari, 2006). Kontrol diri yang tidak
berkembang baik membuat remaja menjadi sulit, jika ada ide atau pikiran jahat
yang muncul di kepalanya tidak ada rem dalam sistem mereka, sehingga pikiran
tersebut tidak cepat dihilangkan tetapi justru dilakukan dengan penuh semangat
(Borba, 2008:96). Kontrol diri yang berkembang baik ditandai dengan adanya
individu dapat mengatur perilaku, kognisi dan memilih tindakan secara positif
(masih memikirkan resiko tanggungjawab, dan tidak menyimpang dari norma-norma
masyarakat dan agama), sebaliknya kontrol diri yang tidak berkembang dengan
baik, ditandai dengan adanya individu yang berperilaku semaunya sendiri (tidak
memikirkan resiko, tanggungjawab, norma-norma masyarakat dan juga agama). Dan
hal tersebut dapat mudah terjadi pada remaja yang sedang dalam proses pencarian
identitas diri dan kurang memiliki penghayatan terhadap nilai-nilai kehidupan.
Perilaku kehidupan yang menawarkan kesenangan sesaat seperti minum minuman
keras, narkoba dan pergaulan bebas/perilaku seks pranikah yang saat ini begitu
marak sangat mudah ditiru oleh mereka, karena mereka berpikiran dengan
melakukan perbuatan tersebut, mereka akan menjadi remaja yang sesuai dengan
tuntutan zaman sekarang. xvii Kontrol diri remaja yang tidak berkembang dengan
baik, juga akan menimbulkan perilaku menyimpang seperti kenakalan remaja,
tindakan kriminalitas, pergi ke diskotik/nightclub, membuka situs purno di
internet, nonton film purno, melakukan pola kencan yang tidak seharusnya mereka
lakukan/tidak sehat sehingga akan menimbulkan banyak masalah seperti penyakit
AIDS, penyakit kelamin, aborsi dan lain-lain. Perilaku menyimpang tersebut
dilakukan para remaja untuk mengidentifikasi dan mencari jati diri dengan cara
yang salah. Lembaga Sekolah Menengah Kejuruan merupakan salah satu tempat di
mana dapat ditemukan remaja yang mengalami kontrol diri yang tidak berkembang
dengan baik, terutama dalam pola pergaulan mereka yang nyaris tanpa batas, yang
menjerumuskan mereka untuk melakukan perilaku seks pranikah. Berdasarkan
observasi dan wawancara pada sekitar bulan Agustus 2007 dengan salah satu pihak
yang berkompeten peneliti memperoleh data kebanyakan dari mereka hamil dan
menggugurkannya serta banyak dari mereka yang di keluarkan dari Sekolahan
dikarenakan MBA (Married By Acciden), pada waktu pelajaran komputer beberapa
siswa tertangkap sedang membuka situs purno, dan ketika dilakukan razia, sering
ditemukan bungkus karet KB atau kondom serta sering juga ditemukannya buku-buku
pornografi, kaset BF (/blue film), alat-alat kontrasepsi seperti pil KB dan VG
(Vagina Gel), siswa yang konsultasi karena sudah melakukan perilaku seks
pranikah tidak hanya satu kali tapi berkali-kali dengan pacar atau om-om,
selain itu peneliti juga pernah melakukan konseling dengan kasus yang sama pada
bulan Agustus 2007, subyek mengatakan kalau saat ini ia tidak perawan lagi dan pertama
kali dia lakukan dengan pacarnya dalam xviii keadaan mabuk bahkan berkali-kali
dan terakhir dia lakukan dengan keadaan sadar. Dan dari hasil observasi dan
wawancara juga pada bulan Agustus 2007 peneliti diperlihatkan banyak tersimpan
alat tes kehamilan di salah satu ruangan sekolah, serta perilaku mereka yang
tidak segan atau tidak malu menggoda dan mengajak keluar guru PKL (Praktek
Kerja Lapangan) khususnya laki-laki untuk nonton film dengan gaya yang manja
dan genit. Penyebabnya berasal dari, mereka banyak mengetahui tentang seks,
akan tetapi pengetahuannya tersebut tidak lengkap disertai dengan kontrol diri
mereka yang tidak dapat berkembang dengan baik. Mereka yang bersekolah di
Sekolah Menengah Kejuruan, umumnya berasal dari keluarga yang memiliki status
sosial ekonomi rendah, beberapa ada juga yang berasal dari status ekonomi
menengah ke atas. Persamaannya adalah banyak mengetahui tentang seks tetapi
cuma setengah-setengah yang disebabkan perhatian orang tua yang kurang,
pendidikan agama dan seks yang kurang, adanya kemudahan untuk mendapatkan alat
kontrasepsi yang publikasinya begitu banyak dan transparan, adanya kesempatan,
kurang tegasnya tindakan hukum di masyarakat maupun Negara, adanya
sajian-sajian yang sarat dengan rangsangan seksulitas, sampai dengan
majalah-majalah gaul untuk konsumsi anak muda. Namun gejala tersebut tidak
terlepas dari bagaimana mereka kaum remaja memberi nilai untuk dirinya, lebih
jelasnya mereka tidak mampu mengontrol diri sendiri. Dari hasil observasi dan
wawancara pada bulan Juli, Agustus dan bulan September awal 2007, Sekolah
Menengah Kejuruan tersebut siswanya berjumlah ± sekitar 1062, laki-laki
berjumlah 94 siswa dan perempuan 968. Dari hasil xix observasi dapat diketahui
bahwa karekteristik siswa Sekolah Menengah Kejuruan tersebut kebanyakan adalah
mereka membentuk geng-geng atau kelompokkelompok, bersikap manja untuk sekedar
cari perhatian, bersikap agresif kepada orang yang mereka benci, cenderung
meniru gaya berpakaian dan bergaul yang ada di televisi terutama pada
sinetron-sinetron, tidak disiplin, mereka akan bersikap manis dan baik ketika
mereka merasa cocok, meskipun demikian peneliti beranggapan bahwa sebenarnya
mereka memiliki kebutuhan yang besar untuk disayangi, dicintai dan dimengerti.
Penelitian mengenai kontrol diri yang tidak berkembang dengan baik terhadap
perilaku seks pranikah sudah banyak dan setiap tahunnya perilaku seks pranikah
pada remaja semakin meningkat, seperti penelitian yang dilakukan oleh Dini
Susanti mahasiswa Psikologi UIIS Malang tahun 2002, memaparkan bahwa dari
keseluruhan responden sudah cukup mampu mengontrol diri mereka agar tidak
terjerumus pada seks pranikah namun sayangnya mayoritas dari mereka menggunakan
cara yang kurang tepat, negatif, tidak sehat dan tidak terarah. Dari mereka
hanya 50% yang mampu mengontrol diri untuk melakukan seks pranikah dengan jalan
yang positif, dan 50% dari mereka mengatakan bahwa hubungan seks pranikah
adalah suatu hal yang wajar dan mereka juga tidak mampu mengontrol diri untuk
melakukan seks pranikah karena mereka didukung oleh pergaulan seperti, film
purno, majalah purno, minum-minuman keras, serta kurangnya kesadaran pentingnya
atau cara mengontrol diri, mereka lebih memilih cara yang mudah dan
menyenangkan. xx Rustika (2007) mengungkapkan pandangan remaja yang menganggap
hubungan seks di luar pernikahan tersebut biasa saja, tidak lepas dari peran
teknologi informasi yang semakin maju sekarang. Kebebasan mendapatkan informasi
melalui akses internet, juga melalui televisi maupun media cetak sangat besar
memberikan pengaruh terhadap persepsi dan norma-norma mereka. Apalagi remaja
adalah individu yang sedang mengidentifikasi dan mencari jati diri. Ditambahkan
Rustika, remaja yang mempunyai pandangan cenderung melakukan seks bebas apabila
ada kesempatan karena rem kontrol diri mereka lemah (Bali Post, 25 Februari
2007). Dari data penelitian yang telah disurvei oleh Anisa Fondation dan
diterbitkan oleh media cetak Hidayatullah (2007:65), hasil penelitian 42,3%
remaja Cianjur pernah melakukan seks sebelum menikah. Suara Pers Anisa
Foundation, sebuah lembaga independent yang bergerak di bidang kemanusiaan dan
kesejahteraan, menerangkan sebanyak 42,3% pelajar Cianjur sudah hilang
keperawanannya saat duduk di bangku sekolah, yang lebih memprihatinkan diantara
responden mengaku melakukan hubungan seks tanpa ada paksaan atau atas dasar
suka sama suka karena kebutuhan. Beberapa responden mengaku melakukan hubungan
seks dengan lebih dari satu pasangan dan tidak bersifat komersil. Penelitian
tersebut dilakukan selama enam bulan mulai Juli hingga Desember 2006 dengan
melibatkan sekitar 412 responden yang berasal dari 13 SMP dan SMA Negeri maupun
swasta di Cianjur dan Cipanas. Berdasarkan hasil survey total responden yang
belum pernah melakukan kegiatan seks berpasangan hanya 18,3%, sedangkan lebih
dari 60 telah melakukan kegiatan seks xxi berpasangan. Dari jumlah tersebut 12%
menggunakan coitus inteuptus dan selebihnya memilih alat kontrasepsi yang
dijual bebas di pasaran. Kecenderungan pelajar Cianjur berhubungan seks
pranikah bukan dilatarbelakangi oleh persoalan ekonomi. Hanya 9% mereka yang
beralasan berhubungan seks dengan alasan ekonomi, selebihnya beralasan karena
tuntutan pergaulan dan lemahnya kontrol. Di Yogyakarta, pada tahun 2002
ditemukan 97 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya.
Penelitian serupa dilakukan di Surabaya kepada 180 remaja yang berusia 19-23
tahun. Terdapat 40% remaja laki-laki dan 7% remaja perempuan telah melakukan
hubungan seksual pra nikah (Saraswati, kompas, 12 Desember 2002). Berdasarkan
hasil penelitian PKLI mengenai masalah seksualitas pada salah satu Sekolah
Menengah Kejuruan di kota Malang yang dilakukan peneliti dengan menggunakan
daftar pertanyaan (angket) mengenai cara mereka dalam memahami tentang seks dari
100 subjek terdapat hasil yang cukup dalam memahami masalah seksualitas.
Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti merasa perlu melakukan penelitian
lanjutan, karena hasil penelitian, mereka tergolong cukup untuk memahami seks,
tetapi pada kenyataannya mereka pernah melakukan perilaku seks dengan
bukti-bukti yang sudah ada. Diharapkan dari penelitian lanjutan, akan
memperoleh hasil yang jelas, kenapa mereka melakukan perilaku seks padahal
mereka tergolong cukup dalam memahami seks. Dari peristiwa tersebut muncul
pemikiran peneliti yang berkeinginan untuk mengetahui apakah kontrol xxii diri
memegang peranan kuat untuk dapat mengendalikan kognitif, perilaku dan
keputusan mereka dalam berperilaku seks. Penelitian lanjutan mengenai kontrol
diri terhadap perilaku seks pranikah pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan,
sangat penting untuk dilakukan. Hal tersebut penting untuk memperoleh deskripsi
yang jelas mengenai hubungan kontrol diri terhadap perilaku seks pranikah dalam
artian ketika kontrol diri itu berkembang dengan baik, maka kemungkinan kecil
perilaku seks pranikah terjadi dan juga sebaliknya. Dalam Islampun terjadinya
perilaku seks pra nikah sangat tidak dianjurkan, karena bahaya yang akan
ditimbulkan sangatlah banyak terutama bagi individu yang melakukan, sehingga
dalam Islam ada aturan-aturan dan hukum untuk mengatur atau mengendalikan
perilaku seks tersebut, yaitu dengan jalan pernikahan yang sah. Seperti Firman
Allah dalam Surat An-Nur ayat 32: 39 :
!
8'
*‑‑
/6 )‑+ 7 6
"# "/;
*# ! " 1
3
5 +
6+
Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (Q.S. An-Nuur:32). Dan disinilah peran kontrol diri sangat diperlukan dalam mengendalikan munculnya atau maraknya perilaku seks pra nikah. Islam mengakui adanya nafsu / dorongan dalam setiap individu terutama dorongan seks karena tersebut adalah dorongan yang ilmiah sehingga Islam menganjurkan untuk mengatur, mengarahkan dorongan-dorongan ilmiahnya ke arah yang positif. Maka dari xxiii itulah Islam menganjurkan untuk para penganutnya terutama para pemuda/remaja untuk selalu meningkatkan keimanannya/ketaqwaannya kepada Allah, dan mengisi kegiatan-kegiatan yang positif, sehingga akan terhindar dari perbuatanperbuatan yang tercela dan merugikan diri dan orang lain. Firman Allah dalam Surat Al-Khfi Ayat 46:
!
$
= ;
+
< ) > $4 % & 0
$ $4 %‑
*‑‑
%‑;#‑‑
Artinya: : Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS. Al-Khfi:46). Dalam ayat di atas tersebut terkandung seruan yang gambling pada manusia untuk mengendalikan dan meluruskan dorongan-dorongannya dengan jalan bertakwa kepada Allah, sehingga dorongan-dorongan tersebut dapat terkendali dan manusia tersebut dapat selamat di dunia maupun di akhirta kelak. Perilaku seks pranikah merupakan perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku. Perilaku seksual sering disederhanakan sebagai hubungan seksual berupa penetrasi dan ejakulasi. Padahal perilaku seksual secara rinci dapat berupa: Berfantasi, pegangan tangan, cium kering, cium basa, meraba, berpelukan, masturbasi (wanita) atau Onani (laki-laki), oral seks, petting, Intercourse (senggama) (Purnawan, 2004:6). xxiv Tingkah laku seksual remaja biasanya, sifatnya meningkat atau progresif (Broderick & Rowe, 1998: Delamater & MacCorquodale, 1979). Biasanya diawali dengan necking (berciuman sampai ke arah dada), kemudian diikuti oleh petting (saling menempelkan alat kelamin), kemudian hubungan intim, atau pada kasus seks oral, yang secara besar meningkat pada masa remaja selama beberapa tahun belakangan ini (Hurlock, 2003:4). B. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang sudah diuraikan diatas maka penelitian ini akan mencari jawaban terhadap persoalan : 1. Bagaimana tingkat kontrol diri pada siswa SMKN 2 di Kota Malang? 2. Bagaimana tingkat perilaku seks pra-nikah pada siswa SMKN 2 di Kota Malang? 3. Apakah terdapat hubungan antara kontrol diri terhadap perilaku seks pranikah pada siswaSMKN 2 di Kota Malang? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mencari jawaban atas persoalan yang ada yaitu: 1. Untuk mengetahui tingkat kontrol diri pada siswa SMKN 2 di kota Malang. 2. Untuk mengetahui tingkat perilaku seks pra-nikah pada siswa SMKN 2 di kota Malang. 3. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan control diri terhadap perilaku seks pra-nikah pada siswa SMKN 2 di kota Malang. xxv D. Manfaat Penelitian Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi baru yang dapat menambah khazanah keilmuan psikologi, khususnya dalam psikologi perkembangan. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pihakpihak : 1. Lembaga pendidikan SMKN 2 Malang sebagai bahan informasi untuk mengantisipasi munculnya pemahaman yang salah terhadap seks sebagai tindakan pencegahan. 2. Siswa SMKN 2 Malang, supaya penelitian tersebut dapat memberi informasi yang benar dan terarah mengenai seks bebas dan dampaknya, sehingga mereka tidak melakukan penyimpangan seksual. 3. Bagi orang tua, hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan informasi tentang pentingnya pendidikan seks pada anak dan mampu membekali anak untuk memperoleh pengetahuan. 4. Bagi masyarakat secara umum, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang benar tentang seks/seksualitas agar masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang sehat jauh dari penyimpangan seksualitas misalkan adanya lokalisasi
Untuk Mendownload Skripsi "Skripsi Psikologi" : Perbedaan tingkat kedisiplinan ditinjau dari tipe kepribadian pada santri Pondok Pesantren Al-Karimiyyah Sumenep Madura." Untuk Mendownload skripsi ini silakan klik link dibawah ini
DOWNLOAD
No comments:
Post a Comment